Bentuk geografis wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan kepulauan besar dengan sekitar 17.000 pulau didalamnya dan komposisi negara dengan 80% wilayahnya terdiri dari lautan mengakibatkan rawan terhadap penyelundupan zat radioaktif. Hal ini mendorong perlunya peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang keamanan nuklir di Indonesia, khususnya untuk Front Line Officer (FLO) sebagai garda terdepan dalam mendeteksi & merespons kejadian keamanan nuklir. Salah satu upaya peningkatan kompetensi SDM FLO tersebut melalui Pembinaan Teknis Keamanan Nuklir untuk FLO.
Pembinaan teknis ini dapat membangun komunikasi dan koordinasi antara FLO/Stakeholder dengan Bapeten, sehingga apabila terjadi peristiwa keamanan nuklir maka dapat dilakukan penanganan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu materi bimbingan teknis selalu di up-date menyesuaikan dengan potensi ancaman nuklir yang mungkin terjadi.